MOHON MAAF, PELAWISELATAN DOT BLOG SPOT DOT COM SEDANG DALAM PROSES RENOVASI. HARAP MAKLUM UNTUK KETIDAKNYAMANAN TAMIPLAN. Semoga Content Sharing Is Fun Memberikan Kontribusi Positif Bagi Pengunjungnya. Semua Artikel, Makalah yang Ada Dalam Blog Ini Hanyalah Sebagai Referensi dan Copast tanpa menyebutkan Sumber-nya Adalah Salah Satu Bentuk Pelecehan Intelektual. Terimakasih Untuk Kunjungan Sahabat

18 Desember 2013

Pak Tarnedi yang Menginspirasi

Pak Tarnedi dengan Catatan Bahasa Inggrisnya
(sumber poto: http.hot.detik.com)
Menonton acara Hitam Putih yang dipandu Deddy Corbuzier pada hari senin 16 Desember 2013 pukul 18.00 WIB, saya sangat terkesan dengan bintang tamunya. Namanya Pak Tarnedi, usianya 54 tahun. Profesinya adalah seorang supir taxi. Bukan profesinya yang membuat beliau menjadi ‘sesuatu’ banget. Melainkan sebagai seorang supir taxi di Jakarta beliau memiliki mental belajar yang luar biasa. Terutama belajar bahasa Inggris. Belajar bahasa Inggris memang biasa tapi akan jadi luar biasa jika itu dilakukan oleh seorang supir taxi yang buta huruf. Pak Tarnedi belajar secara otodidak.
“Saya belajar karena kebutuhan”. Demikian kata Pak Tarnedi. Kebutuhan yang dimaksud beliau adalah butuh ilmunya. Saya sangat terkesan dengan pernyataaannya ini. Belajar Karena Kebutuhan. Baginya dengan belajar bahasa Inggris akan mempermudah pekerjaannya. Menurut Pak Tarnedi jika ia dapat berbahasa Inggris maka dia akan dapat melayani penumpang taxi-nya (yang bule-bule itu) dengan baik. Benar-benar sebuah sikap bermental professional. Meningkatkan kualitas diri untuk memberikan layanan yang berkualitas pula. Mental belajar yang patut dicontoh oleh generasi yang masih duduk di bangku pendidikan dasar dan menengah, apalagi perguruan tinggi. Tentu saja patut ditiru juga oleh mereka-mereka yang mengaku profesioanal. 
Karena semangat belajarnya yang tinggi, beliau selalu mendapat tips menakjubkan dari penumpang bule-nya. Bahkan ada yang member tips hingga Rp 500.000,- dengan pesan untuk membeli buku. Bagi Pak Tarnedi pesan ini adalah amanah. Lagi-lagi mental professional yang luar biasa. Sungguh ironi jika dibandingkan dengan banyak pejabat di luar sana yang mengabaikan amanah. 
“Guru saya adalah semua orang Jakarta yang pernah menjadi penumpang di Taxi saya”. Demikian pengakuan Pak Tarnedi. Satu sikap low profile dan menghargai orang lain secara tulus. Menurut pengakuannya dia selalu mengajak penumpang taxinya untuk bicara dalam bahasa Inggris. Baginya “We can’t speak English fluently if never practice”. Saking ‘nafsu’-nya belajar bahasa Inggris, sampai terbawa ke dalam mimpi beliau. “Bapak suka ngelindur (mengigau). Jika sudah ngelindur bicaranya ngaco pakek bahasa Inggris”. Demikian kata putra Pak Tarnedi. Wow, bisa kebayang bagaimana semangat belajarnya. 
Untuk mencapai sukses, terkadang seseorang perlu ‘gila’. Begitulah motivasi dari Deddy Corbuzier. Ya, kita memang perlu meng-‘gila’ untuk mengusir sifat malas dari diri kita. Pak Tarnedi sering dianggap ‘gila’ oleh orang-orang di sekitarnya. Karena kebiasaannya practice English itu. Bahkan anaknya sendiri sempat malu karena diejek teman-temannya sebagai anak Mister. Tetapi Pak Tarnedi mengabaikan semua ‘cobaan’ tersebut. Beliau maju terus pantang mundur. Hasilnya 2 tahun terakhir ini beliau sudah bisa tulis baca. Amazing…! 
Di saat sebagian orang belajar karena terpaksa atau karena gengsi, Pak Tarnedi justru belajar karena kebutuhan (butuh ilmunya). di saat sebagian orang belajar untuk mendapatkan selembar kertas yang disebut ijazah, Pak Tarnedi justru belajar untuk meningkatkan kualitas diri. Di saat sebagian orang meningkatkan kualitas diri untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi, Pak Tarnedi justru meningkatkan kualitas diri untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Sungguh luar biasa…! Kita memang perlu belajar mental belajar dari Pak Tarnedi. Walaupun beliau tidak tamat SD, belum pernah membaca buku filsafat pendidikan, tapi pola pikirnya sungguh terdidik. Selengkapnya...

12 November 2013

Ketika Siswaku Membaca Adam Panjalu

Buku tulis yang di tangan mereka adalah buku catatanku ketika SMP
Berbagai aktifitas di kelas dan interaksi dengan siswa sering menjadi inspirasi untuk menulis. Sebagaimana cerpenku yang dimuat di Antologi Cerpen Adam Panjalu. Cerpen ini based on true story. Lalu bagaimana reaksi siswa-siswaku, terutama yang nama-namanya tercantum dalam cerpen tersebut? Hmm, cukup seru teman. Mereka sama sekali tidak menduga peristiwa tersebut diangkat menjadi sebuah cerpen.  
Seperti biasa setiap selasa sore ada beberapa siswa kelas 9 yang belajar ke rumahku. Mereka tak ubahnya timba yang mencari sumur. Tak perduli apakah guru tersebut mengajar di kelas mereka atau tidak. Jika mereka merasa enjoy belajar dengan seorang guru, mereka pun rela meluangkan waktu dan biaya untuk bertemu dengan gurunya demi menimba ilmu. Beberapa di antara mereka merupakan siswa yang menjadi tokoh dalam cerpen Mulai Dari Diri Sendiri (salah satu cerpen dalam Antologi Cerpen Adam Panjalu). 
Sebelum belajar kutunjukkan buku antologi tersebut pada mereka. Sebuah buku direbut beberapa anak, untung tidak koyak. Mulailah Sri yang menjadi salah satu tokoh dalam cerpen itu membaca dengan suara keras. Ia bermaksud membacakan cerpen untuk semua teman-temannya. Setiap bertemu paparan peristiwa atau dialog yang sesuai dengan kejadian sebenarnya serentak mereka berteriak: 
 “Yaaaa, pas kali buk semuanya”. 
“Wah payah ni kalok curhat sama Bu Ayu, bisa-bisa dijadikan novel”. Si centil Sri berkomentar. 
“Bu semua cerita kami tentang guru-guru jangan dijadikan tulisan ya Bu”. Lanjutnya lagi tentu saja sambil cengengesan. He he heee 
Hi hi hiiii, memang lucu lah mereka ini. Setiap datang untuk belajar selalu membuka dan menutup pelajaran dengan bercerita pengalaman mereka belajar di kelas 9. Tentu saja paling dominan cerita tentang guru-guru baru yang mengajar mereka di kelas 9. He he he. Oya, aku hanya mengajar mereka di kelas 7 dan 8. Jadi selama mereka di kelas 9 jarang bertemu, apalagi lokasi madrasah yang di dua tempat berbeda. Seolah-olah jika mereka berkunjung sekalian melepas kangen. 
Ternyata seru juga menyaksikan langsung ketika tulisan kita dibaca oleh siswa-siswa kita. Apalagi jika tulisan itu tentang mereka. Karena kita akan menerima respon yang spontan, jujur dan apa adanya. Jauh dari nuansa jaim. Juga  kita menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter di sini, yaitu karakter jujur. Bahwa apa yang kita sampaikan pada mereka, kita pun telah melakukannya.
Dengan momen ini, aku jadi terinspirasi untuk menuliskan berbagai pengalamanku berinteraksi dengan siswa-siswaku. Mereka semua memiliki keunikan masing-masing yang jika ku tuliskan satu persatu, ahaaaa…betul juga kata-kata si Sri; bisa jadi sebuah novel tuh. Selengkapnya...

2 Mei 2013

Hardiknas 2013; HOPE

Tahun 2013 adalah tahun yang cukup fenomenal bagi dunia pendidikan Indonesia. Kebijakan-kebijakan yang tidak fokus pada akar permasalahan pendidikan semakin terpampang nyata. Mulai dari pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) yang ‘unik’. Kompetensi profesioanal dan kepribadian guru diuji melalui multiple choice. Agar terkesan ‘canggih’ dilaksanakan secara on line. Penyaluran dana BOS dan TPP yang mandeg. Pembubaran RSBI yang cenderung diskriminatif. Wacana Kurikulum 2013 dengan redaksi Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang membuat sebagian guru geleng kepala karena sungguh bermuatan ‘sense of humor’ yang ‘luar biasa’. Sebagai puncaknya adalah pelaksanaan Ujian Nasional (bahkan ada yang memplesetkannya menjadi Ujian Gagal Nasional) yang sungguh ‘menguras’ ‘energi’ semua pihak. Bukan hanya ranah pendidikan tetapi sudah menyentuh ranah politik. Sehingga Gubernur/walikota, bupati, camat apalagi Kepala Dinas turut ‘gegap gempita’. Ujian Nasional telah ‘berhasil’ membentuk mind set anak bangsa (bahkan sebahagian guru) bahwa sekolah adalah untuk menjawab sejumlah soal agar lulus UN, bukan untuk mengembangkan kreatifitas. Kreatifitas versi UN adalah mampu menghitamkan bulatan dengan rapi dan menentukan jawaban yang benar di antara a,b,c atau d.  
Salah satu tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia ini adalah untuk mencerdaskan bangsa. Jadi mikir kecerdasan yang bagaimanakah yang diinginkan dengan kebijakan-kebijakan ‘unik’ itu? Apakah hanya sebatas kecerdasan dalam menentukan a, b, c atau d sajakah? Sungguh kebijakan-kebijakan tersebut nggak nyambung. Lebih nggak nyambung lagi jika dihubungkan dengan tema Hardiknas tahun ini: Meningkatkan Kualitas dan Akses Berkeadilan. Kualitas apa yang diharapkan dari penilaian yang hanya mengandalkan multiple choice. Akses Berkeadilan yang mana yang dapat diharapkan dari tidak meratanya pembanguan infra struktur pendidikan. Masih banyak siswa pendidikan dasar yang harus bertaruh nyawa hanya untuk tiba di sekolah. Belum lagi pelabelan sekolah regular, SSN, Unggulan dan lain sebagainya. Kemudian diskriminasi terhadap ilmu pengetahuan dengan mem-feto mata pelajaran B.Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA sebagai exit exam di pendidikan dasar dan menengah.
Tulisan ini tidak bermaksud berkeluh kesah tentang semua keadaan itu. Segala keluh kesah tidak akan menyelesaikan permasalahan. Namun ‘kekuatan’ diri untuk merubah kebijakan-kebijakan ‘unik’ tersebut tidaklah memadai. Tapi jangan putus asa. Masih ada HOPE. Seperti kata Dahlan Iskan, dengan HOPE kita masih bisa bangkit. Maka pada Hardiknas 2013 ini, HOPE yang bersemayam di lubuk hati terdalam adalah semoga:  
  1. Ruh pendidikan Ki Hajar Dewantara dan KH Ahmad Dahlan bangkit kembali dalam reinkarnasi sosok Mendikbud yang benar-benar pernah mengajar di jenjang pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi. Agar ia benar-benar memahami apa permasalahan krusial di lapangan.
  2. Pendidikan tidak lagi diintervensi oleh politik yang lebih mengutamakan prestise dari pada prestasi. Lebih mengutamakan angka-angka statistik yang tidak jelas kevalidannya. 
  3. Pendidikan tidak lagi mengkotak-kotakkan ilmu mana yang lebih penting. Karena apa pun ilmu yang dipelajari pada dasarnya bertujuan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. 
  4. Pendidikan tidak lagi dibatasi oleh kompetensi-kompetensi tertentu yang dianggap penting oleh pihak-pihak tertentu. Biarkanlah anak mengembangkan kompetensinya sesuai dengan keunikan kecerdasan (multiple intelligence) yang dianugerahkan sang Maha Pencipta kepadanya. (Stop UN sebagai exit exam). Guru hanya memfasilitasi anak untuk menemukan kompetensi dirinya yang sesungguhnya agar ia dapat menjadi anak yang bermanfaat bagi sekelilingnya. 
  5. Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) lebih selektif dalam proses meng-create tenaga pendidik. Karena mereka lah yang menjadi ujung tombak pendidikan negeri ini, bukan kurikulum yang gonta-ganti dengan biaya yang aje gile. Apa pun kurikulumnya toh ujung tombak adalah guru. Bukan berarti kurikulum harus statis, hanya saja perubahan kurikulum memang benar-benar berorientasi pada penyelesaian masalah bukan hanya menambah masalah baru.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga Allah SWT selalu membimbing kita untuk lebih bijak dalam mendidik anak bangsa. Semoga juga kita selalu memiliki semangat belajar yang tinggi, belajar untuk menjadi pendidik yang benar-benar Ing madyo mangun karso, Ing ngarso sung tulodo, Tutwuri Handayani. Amin Selengkapnya...

26 April 2013

Adam Panjalu; Antologi Cerpen Pertama-ku

Adam Panjalu adalah antologi cerpen yang memuat karya-karya cerpen dari 20 guru se-Indonesia. Mulai dari penulis senior hingga yunior seperti saya. Dua puluh empat cerpen ini semuanya bernuansa pendidikan. Bahkan cerpen saya yang terdapat dalam buku ini (Mulai dari Diri Sendiri) based on true story. Terkadang kejadian-kejadian di kelas, interaksi dengan murid-murid selalu menimbulkan inspirasi untuk berbagi cerita kepada orang lain. Agar cerita itu dapat dinikmati oleh banyak orang maka diungapkan lewat tulisan.  
Mimpi tulisan diri dibaca oleh komunitas yang lebih luas dalam bentuk media cetak terwujud. Aiiih senangnya. Semua ini tidak lepas support dari Mas Eko Prasetyo dan Ibu Faradina. Dua penulis kondang yang selalu ‘menularkan’ virus menulisnya kepada guru-guru di Indonesia dalam komunitas Ikatan Guru Indonesia, yang salah satu kegiatannya adalah Gerakan Guru Menulis.
Salah seorang tokoh dunia literasi yang karyanya sering ku baca, yaitu Yudhistira Massardi berkomentar dalam antologi cerpen ini; “Jika para guru sudah mau dan bisa menulis, berarti para muridnya akan terdorong untuk lebih maju, sekurang-kurangnya memiliki gairah untuk membaca dan menulis; berarti sebentar lagi kita akan memiliki generasi baru intelektual-seperti para intelektual Indonesia yang lahir menjelang dan setelah Sumpah Pemuda 1928; berarti Bahasa Indonesia juga akan semakin terjaga. Karena, para guru yang menulis tentu akan menjaga kualitas bahasa dan idenya, dan memberikan contoh yang baik bagi para muridnya”. 

Selain itu ada juga sambutan dari Bapak Maman S Mahayana, Pengajar FIB-UI yang kini bertugas sebagai dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul Korea. Inilah sambutan beliau; “Cerpen-cerpen dalam buku ini, merupakan wujud kesadaran akan pentingnya berkomunikasi dengan masyarakat yang lebih luas. Percayalah, cerpen-cerpen dalam buku ini adalah representasi spirit guru yang tidak terkungkung oleh ruang kelas dan tembok sekolah. Mereka, guru-guru ini hendak berbagi dan menggaungkan pesan moral. Itulah karakteristik guru-guru plus-plus. Guru-guru yang punya kualitas dan nilah tambah. Selamat”! 

Memang 24 cerpen yang termuat dalam antologi ini sarat dengan nilai-nilai Character Building. Untuk konsumsi sastra tentu tidaklah mengecewakan. Sangat layak dibaca oleh siapa saja yang peduli dengan dunia pendidikan dan tentu saja mencintai sastra. Semoga Adam Panjalu bukan buku pertama dan terakhir bagi saya. Ini anak tangga pertama, dan bersiap-siap untuk menapak di anak tangga berikutnya. Bismillaah. Selengkapnya...

22 Februari 2013

Guru Merokok di Lingkungan Sekolah

Merokok tidak baik bagi kesehatan. Anak kecil juga tahu hal ini. Maka sekolah sebagai lembaga pendidikan formil cenderung memiliki peraturan yang nyaris seragam; siswa dilarang merokok. Baik di luar sekolah maupun di dalam lingkungan sekolah, apalagi jika sambil mengenakan seragam sekolah . Akan tetapi bagaimana jika yang melakukan merokok di lingkungan sekolah adalah guru? Apakah berlaku peraturan yang sama? Adakah sekolah yang telah menerapkan peraturan khusus bagi guru yang perokok?  
Di sebuah sekolah saya pernah menyaksikan tiga orang siswa dihukum gurunya dengan memaksa mereka harus menghisap rokok tiga atau empat batang sekaligus karena ketahuan merokok di lingkungan sekolah pada jam belajar. Sebuah pemandangan yang sangat tidak nyaman. Setidaknya bagi saya. Mengapa? Karena saya tahu betul guru yang menghukum siswa tersebut juga perokok. Bahkan sering merokok di lingkungan sekolah. Terkadang juga menyuruh siswa membelikan rokok untuknya. Oh my God…! 
Melarang siswa merokok sementara guru masih ‘gentayangan’ merokok di lingkungan sekolah (atau pun di luar lingkungan sekolah) adalah sesuatu yang sia-sia. Alangkah indahnya jika peraturan merokok ini juga berlaku bagi guru. Jika perlu guru yang sudah kecanduan merokok sharing ke siswa, bagaimana perasaannya mengalami ketergantungan dengan rokok. Atau guru yang mempunyai pengalaman berhasil membebaskan diri dari kecanduan merokok sharing tips-tipsnya ke siswa. Dengan begitu siswa akan menyadari bahaya merokok dari orang yang langsung telah menjadi ‘korban’ (apa iya sih bisa disebut korban?)
Selain itu pengelola sekolah juga harus balance dalam menerapkan peraturan. Khususnya dalam hal merokok. Jika siswa dilarang merokok di lingkungan sekolah maka guru juga. Jika siswa dilarang merokok di luar lingkungan sekolah, maka guru juga. Terkadang yang membuat miris ada (oknum) guru yang berpoto-ria dalam pose sambil merokok di lingkungan sekolah ataupun di luar lingkungan sekolah lalu poto tersebut di-share di jejaring sosial. Sungguh th…e…r…l…a…l…u…! 
Menyikapi masalah merokok tidak ada metode paling tepat kecuali metode keteladanan. Selengkapnya...